Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

AIR, BURUNG, DAN NENEK MOYANG


Syair ini ditulis oleh Phellen Philip Baldini & Iman Soleh, dari naskah berjudul Water Courier, di pulau Reunion Island

AIR, BURUNG, DAN NENEK MOYANG

alkisah

seorang anak berjalan kaki

dia sudah berjalan siang dan malam untuk mencari air

sedemikian hausnya dia hanya bisa berjalan dan terus saja berjalan

melewati lembah tandus, hutan yang kering kerontang

tanpa daun, tanpa akar, tanpa kulit pohon

dibawah sinar terik matahari dan rembulan yang dingin membisu

lidahnya lengket di mulut, kerongkongan kering, nafaspun sesak…

tubuh dengan pakaian compang camping

seperti tanah tandus yang dia injak

anak itu hanya bisa berjalan untuk mencari air


“yambare ranaa,.

air ya air,. hujan ya hujan..”

sampai hitungan tahun menuju kesepuluh

musim tak lagi menjadi penting

tahun pertama dia menemukan

jika kau pergi ke sudut-sudut negeri dan kau bertemu dengan rindu

maka kau telah menjadi manusia

tahun kedua dia menemukan

jika kau mentiadakan dirimu dari sekedar tujuan keduniaanmu

maka kau telah menjadi manusia

tahun ketiga dia menemukan

jika kau menempatkan alam sebagai sahabat baikmu

maka kau telah menjadi manusia

waktu tidak pernah berkurang

sedetik yang lalu masa lalu

sedetik yang akan datang

tidak pernah ada yang tahu

anak itu terus berjalan

sepanjang perjalanan dia punguti kata – kata

yang bertebaran diantara bisikan angin

tetesan air

bentangan cahaya

juga retakan tanah

yambare ranaa…

”jika kau mampu memberi cinta kepada siapapun

maka kau telah menjadi manusia

jika kau senantiasa menjadi murid dari berbagai ilmu

jika kau menempatkan perbedaan sebagai kekayaan

jika kau mampu menunjukkan pintu bagi kehidupan apapun

jika kau menempatkan bangsa manapun sebagai manusia

maka kaulah manusia”

rupanya anak itu telah mampu mendengar gemuruh gunung

suara merdu lautan

dan seperti yang menjadi mimpi terkabulah do’anya

ditahun ketiga puluh

jika jalanmu menanjak tenagamu haruslah keikhlasan

ditahun keempat puluh jika jalanmu berbatu

keringatmu haruslah ketawakalan

ditahun kelima puluh

jika jalanmu buntu nafasmu haruslah ketulusan

jika kau harus kembali dari pengembaraanmu

maka yang kau bawa haruslah kesabaran

yambare rannaa

hingga di suatu tempat

tiba tiba dia melihat danau dikejauhan

danau yang dikelilingi pepohonan hijau

dengan langkah gontai dia mempercepat langkahnya

dahaga telah membakar seluruh raganya


namun baginya tubuh hanyalah rumah

peradaban adalah jiwanya

ditepi danau

anak haus itu menundukan kepalanya

barangkali dapat meminum seluruh danau

sungai

bahkan samudra

namun air bukan haknya!!

Sementara dahaga terus menggerogotinya

Dia hanya bisa berbaring

Melihat pantulan wajahnya

Pantulan harapan-harapannya


Yambare ranaa

Sementara di sudut danau terlihat seekor burung raksasa

Bertengger di pohon mati, lalu berkata ” :

Air ini milikku, warisanku, aku akan mengijinkan kau meminumnya

Jika kau mampu menjawab pertanyaaan-pertanyaanku”

Anak itu diam

Dia hanya bisa berdoa untuk rasa takutnya”

Kau selalu berdoa untuk melawan kejahatan

Adakah doa untuk melawan kebodohan?”

Kegundahanpun mencekam pikirannya

Namun hidup tidak sekedar untuk dipikirkan

Hidup harus pula dihayati

Darah telah mengering

Dalam hausnya dia berkata

Baiklah jika air ini milikmu……. memang demikian harusnya


Inilah pertanyaan-pertanyaanku,

Burung diangkasa yang susah ditaklukan, apakah itu?

Perjalanan pikiran,. Pikiran, ya pikiran !


Apa yang harus digali seperti harta karun anakku?

Ilmu,. Ilmu,. Itulah yang harus digali


Apa yang mengalir lancar dapat menghilangkan dahaga selamanya,

Menghidupkan sekaligus mematikan?

Kata-kata ya kata-kata..


Apa yang membuat manusia menjadi tuli

Tak dapat mendengar getaran bumi, gemuruh gunung

maupun suara merdu pepohonan?

Ketidaktahuan… ketidaktahuan


Dewa apa yang mengintai lembah tandus?

Dewa air yang siap menghijaukan kembali


Apa rambut leluhur dan dewa-dewa?

Pepohonan ya pepohonan… kita harus menjaganya


Apakah otot bumi anakku?

Sungai.. ya sungai, kita harus arif padanya


Apa keuntungan buah yg ranum?

secercah keheningan,. Secercah keheningan


Apa yang dapat mencairkan kegelapan malam?

Setetes air.. ya setetes air


Apa yg dapat menimbulkan dahaga seumur hidup?

Kebahagiaan ya kebahagiaan


Sumber air yang berbisik menuju samudra, apakah itu?

Kasih sayang,. ya kasih sayang


Apa yang paling berat membawa sekaligus melaksanakannya?

Amanah,. ya amanah


Yambare ranaa…!

Tiba-tiba burung itu berubah menjadi sumber cahaya

Dan menjadi nenek moyangnya

Lalu dia berkata :

tubuhmu sudah penuh luka

Jangan berikan luka itu pada yang lain

Karena senjatamu adalah cinta

Berikan air itu pada siapapun

Periharalah

Karena dari sanalah kita memulai hidup

diseberang lautan sana

ada jiwa kita yang lain

mereka semua adalah saudara kita…..

Post a Comment for "AIR, BURUNG, DAN NENEK MOYANG"